Bank Mandiri Gencar Memacu Bisnis Wealth Management

Bank Mandiri is aggressively driving the Wealth Management business

mandiri

Guna mendorong pendapatan komisi, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. gencar memacu bisnis dana kelolaan nasabah kaya.
Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan bisnis dana kelolaan atau wealth management merupakan bisnis yang menjanjikan bagi perseroan. Bahkan, menurutnya, wealth management termasuk salah satu core bisnis perseroan.
Hery menjelaskan nasabah HNWI [high net worth individuals] Bank Mandiri mencapai lebih dari 55.000 nasabah. Belum lagi, nasabah private banking yang ada 1.200 nasabah. Potensi segmen ini dinilainya, cukup bagus dan terus mengalami perkembangan.
Total dana kelolaan Bank Mandiri (BMRI) yang berhasil tercatat per Juni 2019 mencapai Rp 205,3 triliun. Angka ini meningkat sebesar 6,75 persen secara tahunan dibandingkan dengan tahun 2018 di periode yang sama.
Sementara itu, kata Henry, fee based income dari wealth management memberikan kontribusi yang positif. Pada 2018, pendapatan fee melalui bisnis wealth management tercatat sekitar Rp500 miliar. Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan fee bisa mencapai Rp600-700 miliar.
SVP Wealth Management Bank Mandiri Elina Wirjakusuma mengatakan perseroan menargetkan dana kelolaan hingga akhir tahun ini mencapai sekitar Rp210-215 triliun. Sementara, pertumbuhan jumlah nasabah wealth management ditargetkan mencapai 2.000 nasabah.
Target ini ditetapkan karena menengok dari pertumbuhan tahun ke tahun, yakni antara 2015 – 2018 yang mencapai rata-rata 8 persen dan revenue yang mencapai 20 persen rata-rata per tahun.
Berdasarkan komposisi, sekitar 70 persen dari dana wealth management, perseroan menempatkannya pada dana pihak ketiga.Sedangkan sisanya, yakni 30 persen ditempatkan pada asset under management (AUM) atau dana investasi.
Elina menjelaskan, dari total 30 persen AUM, hampir 40 persen-50 persen dana ini ditempatkan pada reksa dana, surat berharga, dan unit link karena dinilai memiliki pertumbuhan yang signifikan.
Oleh karena itu, Herry mengatakan perseroan berinisiatif untuk mengembangkan variasi produk dalam rangka memacu bisnis tersebut. Salah satunya melalui anak usaha, yakni PT Mandiri Sekuritas dan PT Mandiri Manajemen Investasi.
Pasalnya, Hery menyoroti fasilitas locked-up dana repatriasi dari tax amnesty yang akan segera berakhir dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini menjadi tantangan bagi perseroan.
Dana repatriasi dari tax amnesty itu mencapai Rp127 triliun. Sementara sekitar Rp8-8,5 triliun dari dana repatriasi tersebut mengendap di Bank Mandiri.
Untuk itu, perseroan pun tengah memberi tambahan opsi bagi nasabah dengan mempersiapkan produk offshore di kantor cabang Bank Mandiri di Singapura, selain nasabah juga bisa melakukan pembelian obligasi melalui PT Mandiri Sekuritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *