Data pasien Covid-19 Indonesia diduga diretas dan dijual di dark web, Kominfo lakukan penelusuran

Peretasan

Data pasien Covid-19 Indonesia diduga diretas dan dijual di dark web, Kominfo lakukan penelusuran

Data warga terkait Covid-19 di Indonesia diduga telah dicuri oleh peretas (hacker). Sebanyak 231.636 data tes Covid-19 warga Indonesia ditawarkan di forum forum dark web RapidForums pada 18 Juni 2020.

Data tersebut diduga kuat merupakan hasil peretasan oleh hacker terhadap sistem data milik pemerintah. Berdasarkan bocoran atau spoiler yang disampaikan oleh si penjual data, isi database bermacam-macam.

Data-data warga yang dijual itu terbilang lengkap. Beberapa informasi tersebut, antara lain nama, status kewarganegaraan, tanggal lahir, umur, nomor telepon, alamat rumah, Nomor Identitas Kependudukan (NIK), dan alamat hasil tes corona.

Selain itu, hasil tes Covid-19 juga muncul secara detail dalam basis data tersebut. Data yang dijual berupa gejala, tanggal mulai sakit, dan tanggal pemeriksaan. Di sini, pengguna dapat mengakses RapidForums dengan mengaktifkan VPN terlebih dahulu.

Akun penjual bernama Database Shopping menyatakan basis data terkait Covid-19 mulai bocor pada 20 Mei 2020 lalu. Namun, ia mulai menjual data pasien atau warga yang terkait wabah corona pada Kamis (18/6).Penjual sendiri mulai bergabung dalam RaidForums pada Mei 2020. Dia memiliki tingkat reputasi sebesar 30 memiliki 60 post dan 20 thread.

Sejauh ini, penjual itu memiliki 230 ribu data warga terkait Covid-19 yang ada di Indonesia. Sementara, data resmi pemerintah menunjukkan tes PCR yang telah dilakukan di Indonesia menjangkau 366.581 orang.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) saat ini masih menelusuri dugaan peretasan basis data pasien Covid-19, yang beredar di dunia maya baru-baru ini.

“Database Covid-19 dan hasil cleansing yang ada di data center Kominfo aman,” kata Menteri Kominfo Johnny G Plate, melalui pesan singkat, dikutip Sabtu, 20 Juni 2020.

Kominfo saat ini masih menelusuri informasi tersebut dan berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), selaku penanggung jawab keamanan data Covid-19 di Indonesia.Kominfo juga sedang berkoordinasi untuk mengevaluasi pusat data di kementerian dan lembaga lainnya.

Menurut Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber (Communication and Information System Security Research Center/CISSReC) Pratama Dahlian Persadha, yang perlu dilakukan sekarang adalah audit digital forensic untuk mengetahui persis di mana letak kebocoran data.

“Kegiatan ini bisa melibatkan BSSN, Cybercrime Polri dan juga Deputi Siber BIN yang memang punya kemampuan untuk ini. Jadi nanti bisa diketahui persis di mana kebocoran sekaligus menemukan celah lain yang ada, sehingga tidak terulang kembali,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu, 20 Juni 2020.

Selain itu, juga perlu memverifikasi apakah data yang dijual oleh peretas ini sesuai atau sudah dimodifikasi dengan maksud tertentu. “Karena data yang didapatkan tanpa perlindungan enkripsi sehingga mudah diubah dimodifikasi,” ujarnya.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang National:
https://www.indonesianupdates.com/category/nation/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *