Empat Narapidana Menjadi Otak Riot di Penjara Kabanjahe

Empat Narapidana Menjadi Otak Riot di Penjara Kabanjahe

Empat narapidana ditunjuk sebagai aktor intelektual dalam kerusuhan yang disertai dengan penghancuran dan pembakaran di penjara Kelas II B Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Mereka tunduk pada Pasal 170 KUHP tentang kekerasan terhadap barang dan orang.

Empat narapidana ditunjuk sebagai aktor intelektual dalam kerusuhan yang disertai dengan penghancuran dan pembakaran di penjara Kelas II B Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Mereka tunduk pada Pasal 170 KUHP tentang kekerasan terhadap barang dan orang.

Kepala Inspektur Jenderal Polisi Sumatera Utara Martuani Sormin mengatakan, terkait dengan insiden di penjara di Kabanjahe, dia sudah mengunjungi Gubernur Sumut Edy Rahmayadi bahwa situasinya kondusif.

“Kemarin ada kerusuhan yang dipicu oleh perselisihan, tidak menerima hukuman. Ada 4 tahanan narkotika yang dijatuhi hukuman oleh sipir penjara. Itu menyebabkan perlawanan dari tahanan narkotika lain yang mengakibatkan kerusuhan dan pembakaran di penjara,” kata Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara pada Kamis (13/2).

Sormin menekankan bahwa polisi telah mengkonfirmasi situasi yang kondusif setelah kerusuhan di penjara Kelas B B Kabanjahe II.

Sebanyak 410 penghuni penjara yang terdiri dari tahanan dan narapidana telah dievakuasi dan diselamatkan.

Dia menjelaskan, penghuni penjara Kabanjahe berjumlah 410 orang dengan rincian tahanan pria berjumlah 188 orang dan wanita berjumlah 16 orang. Lalu, ada 192 tahanan pria dan 14 tahanan wanita.

Setelah kerusuhan, 191 narapidana di penjara telah dipindahkan ke sejumlah lembaga pemasyarakatan di beberapa daerah di Sumatera Utara.

“Kami telah mengevakuasi semua tahanan dan menyelamatkan 410 orang, 380 pria, 30 wanita. Kemarin malam 192 tinggal di Tanah Karo karena masih diadili dan 191 telah dipindahkan ke Hinai, Binjai, Medan dan Sidikalang,” katanya.

Penyebab kerusuhan

Sebelum kerusuhan pecah, petugas penjara Kabanjahe mengadakan penggeledahan kamar tahanan sejak Rabu, 8 Januari 2020. Hasil pencarian menemukan 30 gram obat metamfetamin milik 4 warga penjara.

Berdasarkan temuan ini, 4 narapidana telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Kantor Polisi Daerah Tanah Karo. Petugas penjara Kabanjahe juga terus secara aktif menggeledah kamar tahanan dalam upaya untuk mencegah narkoba berada di penjara.

“Kepala Pusat Penahanan Kabanjahe hampir setiap hari menggeledah kamar tahanan,” jelas Kepala Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kepala Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal PAS) Rika Aprianti.

Kemudian, pada hari Selasa 11 Februari 2020, 4 tahanan yang disebut sebagai tersangka oleh Kantor Polisi Tanah Karo dikembalikan ke penjara Kelas IIB di Kabanjahe. Mereka memprovokasi tahanan lain.

“Provokasi berbau untuk menentang pencarian yang dilakukan oleh petugas dengan Kepala penjara Kelas IIB Kabanjahe,” katanya.

Pada hari kerusuhan itu, sekitar pukul 12.00 WIB, para tahanan di penjara Kabanjahe diprovokasi menjadi pemberontakan terhadap para petugas. Tahanan itu juga diprovokasi untuk membakar gedung penjara Kelas IIB di Kabanjahe.

“Mereka menolak mencari untuk mencegah narkoba beredar di pusat penahanan,” katanya.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang Nation: https://www.indonesianupdates.com/category/nation/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *