Hong Kong Resmi Umumkan Penarikan RUU Ekstradisi, Carrie Lam: Mari Berdialog

Hong Kong Officially Announces Withdrawal of the Extradition Bill, Carrie Lam: Let’s Dialog

carrie cam

Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam secara resmi mengumumkan penarikan rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi, Rabu (4/9). Keputusan itu ia sampaikan dalam pidatonya yang disiarkan stasiun televisi. RUU ekstradisi itu menjadi pemicu gelombang demonstrasi besar-besaran selama sekitar tiga bulan terakhir.

Lam dalam pidatonya mengatakan, hal yang menjadi prioritas pemerintahannya saat ini ialah mengakhiri kekerasan, menjaga supremasi hukum, dan memulihkan ketertiban serta keamanan di masyarakat.
Dia tak menampik gelombang demonstrasi yang mencuat selama sekitar tiga bulan terakhir menimbulkan dampak serius bagi Hong Kong dan merusak fondasi masyarakat Hong Kong, terutama aturan hukum.

Kendati demikian, dia tetap akan mengajak kelompok-kelompok yang berpartisipasi dalam demonstrasi untuk berdialog. Untuk mendukung hal itu, Lam akan mengundang tokoh masyarakat, kalangan profesional serta akademisi untuk mengkaji masalah yang terjadi di masyarakat dan meminta saran atau usulan mereka sebagai upaya solusi.

Namun, dia mengisyaratkan aksi kekerasan yang dilakukan para demonstran harus dihentikan terlebih dulu sebelum dialog dimulai. Pengumuman penarikan RUU ekstradisi dilakukan setelah diadakannya pertemuan Lam dengan anggota parlemen pro-pemerintah dan anggota Kongres Rakyat Nasional serta Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China.

Anggota parlemen Michael Tien, yang juga turut hadir dalam pertemuan itu mengatakan penarikan RUU tidak akan mengubah sentimen publik karena dianggap fokusnya telah bergeser pada akibat dari insiden demo. Dia berpendapat harus ada langkah lanjutan dari pemerintah, terutama perihal penyelidikan independen soal dugaan pelanggaran serta kekerasan polisi kepada para demonstran. Pendapat Tien tersebut juga diamini sejumlah masyarakat Hong Kong.

Selain penarikan RUU, ada hal-hal lain yang jadi poin tuntutan para demonstran, antara lain meminta kata “kerusuhan” dicabut untuk menggambarkan aksi unjuk rasa, membebaskan semua demonstran yang ditangkap, mengadakan penyelidikan independen terhadap polisi yang dianggap melakukan kekerasan, serta hak bagi rakyat Hong Kong untuk memilih pemimpin mereka sendiri secara demokratis.
Kepolisian Hong Kong sendiri belum memberikan komentar terhadap tuntutan para demonstran terkait penyelidikan independen, yang sebelumnya mereka telah berulang kali membantah menindak para demonstran secara brutal. Sementara, China yang kerap mengecam aksi demonstrasi Hong Kong belum merespons sejauh ini.
Para aktivis demokrasi Hong Kong, termasuk tokoh terkemuka Joshua Wong, sudah menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Kanselir Jerman Angela Merkel. Ada agenda yang akan dilakukan Merkel untuk mengunjungi Beijing.

Dalam surat itu, Wong dan rekan-rekannya menuliskan Jerman harus berjaga-jaga dalam menjalin bisnis dengan China. Merkel disinggung juga tentang kehidupan masyarakat Jerman di bawah kepemimpinan diktator Jerman Timur.
Joephy Wong dan Alice Yu, seniman asal Hong Kong yang kini tinggal di Jerman turut menandatangai surat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *