Jarang Berolahraga, Jangan Forsir Tubuh Sebab Bisa Berakibat Pingsan Atau Kematian

Rarely Exercising, Do not Improve Your Body Because It Can Result in Fainting or Death

marathon

Seperti diketahui, setiap orang dianjurkan untuk berolah raga, karena aktivitas ini bisa menyehatkan fisik dan juga mental. Namun, dalam kondisi tertentu, olahraga bukan menyehatkan justru malah berakibat fatal hingga membuat seseorang kehabisan tenaga, lalu pingsan, hingga kematian akibat serangan jantung.

Bahaya yang menyerang itu dapat terjadi karena orang tersebut terlalu memaksakan diri, yang sebelumnya tidak terbiasa berolahraga. Belakangan ini cukup banyak ‘atlet’ dadakan yang gemar ikut festival lari-lari yang kerap diadakan. Padahal, olah raga yang dilakukannya itu bukanlah merupakan olah raga rutin yang dilakukannya. 

Lalu, banyak orang yang kerap memaksakan diri untuk ikut olahraga berat dan jarak jauh demi banyak hal, salah satunya eksistensi dan unggahan di media sosial. Pada hari diselenggarakannya marathon, tubuh dan kaki dipaksa untuk bekerja keras.

Menurut dokter umum Herman Irawan, bahwa saat tubuh berolahraga, otot membakar glikogen yakni karbohidrat yang disimpan di dalam otot. Glikogen ini akan terbentuk pada orang yang terbiasa berolahraga.

Sedangkan pada orang yang tidak terbiasa olahraga, tubuh akan cepat kehilangan glikogen. Semakin diforsir, tubuh akan kekurangan oksigen dan kekurangan gula.

Dengan memaksakan berolahraga yang sampai melewati ambang batas kemampuan diri, tubuh juga dapat mengalami hyperventilation atau bernapas terlalu cepat. Normalnya, dalam satu menit laki-laki dapat bernapas 16 kali, sedangkan perempuan lebih banyak, yakni 20 kali.

Herman menyebut kondisi hyperventilation terjadi saat pembakaran glikogen yang menghasilkan asam laktat berupa gas CO. Zat ini harus dibuang segera dari dalam tubuh. Dalam kondisi itu, tubuh bereaksi dengan bernapas dengan cepat sebagai bentuk pertahanan diri alami agar dapat mengeluarkan gas tersebut.

Namun, saat olahraga terlalu dipaksa dan gas  CO tidak mampu dikeluarkan oleh tubuh, tubuh dapat mengalami keracunan hingga menyebabkan pingsan. Biasanya ditandai dengan pucat, mual, dan kelelahan.

Pada kasus ini umumnya tidak sampai menyebabkan kematian jika segera mendapatkan perawatan. Sedangkan ada kasus kematian mendadak saat berolahraga, Herman menyebut biasanya dipicu oleh penyakit jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskular.

Hal ini biasanya terjadi pada orang yang tidak pernah berolahraga lalu melakukan olahraga berat yang membuat jantung dipompa sangat keras hingga penumpukan sumbatan kolesterol terlepas dan justru menyerang jantung menjadi jantung koroner atau ke otak menjadi stroke.

Herman memberikan saran agar terhindar dari akibat fatal tersebut, yakni setiap orang supaya mulai rutin berolahraga menyesuaikan dengan kemampuan diri. Disarankan berolahraga 3-5 kali seminggu masing-masing 20-30 menit. Dengan berolahraga rutin, akan mengurangi risiko penyakit jantung, obesitas, dan diabetes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *