Jasa Pengiriman Ekspres Mengaku Tertekan Soal Maskapai Ikut Bermain di Bisnis Kurir

Express Delivery Services Confess Depressed Problem Airlines Come Play in the Courier Business

Courier Business

Seiring dengan berkembang pesatnya transaksi jual beli, terutama online membuat bermunculan para pemain di sektor jasa pengiriman ekspres. Namun, sejumlah perusahaan jasa pengiriman ekspres kini mengaku tertekan dengan masuknya maskapai penerbangan yang mendulang cuan di bisnis jasa kurir belakangan ini.

Hal itu disampaikan oleh Senior consultant Supply Chain Indonesia (SCI) Widia Erlangga yang mengatakan bahwa maskapai sebagai space provider atau penyedia ruang kargo seharusnya tidak turut bermain di sektor jasa pengiriman ekspres baik domestik maupun internasional.
Menurut Widia, pemain kurir lainnya akan kalah jika harus bersaing dengan anak usaha maskapai. Sebab, salah satu persoalannya maskapai penerbangan itu memiliki armada tersendiri di bisnis kurir, sementara kurir lainnya tidak.

Lebih lanjut, Widia mencontohkan maskapai yang turut bermain di jasa kurir ekspres, yakni Lion Air Group yang membesarkan Lion parcel. Diketahui, Lion Air Group membawahi sejumlah maskapai, yakni Lion Air, Wings Air, Malindo Air, Thai Lion, serta Batik Air.
Selain itu, hal serupa juga dilakukan oleh maskapai pelat merah Garuda Indonesia yang ikut bermain di sektor pengiriman ekspres dengan produk Cargo Service Center (CSC) yang dimilikinya lewat jasa Go Express.
Lion Parcel memberikan layanan pengiriman langsung door to door untuk domestik. Maskapai Garuda Indonesia Group serta Lion Air Group merupakan dua maskapai yang memiliki armada terbesar dan melayani rute terbanyak di Indonesia.

Pasar kargo sendiri memang tengah digarap secara serius oleh Lion Air dan digadang-gadang menjadi penopang keuangan perseroan di tengah sepinya penumpang pesawat.
Lion Parcel beroperasi sejak 2014 dan terus mencatatkan pertumbuhan volume layanan. Memulai awal bisnis logistiknya dengan hanya mengirim paket ratusan kilogram per tahun. Kini, pengiriman barang Lion tumbuh hingga sepuluh kali lipat dengan pertambahan mencapai volume 5.000 ton per tahun.

Chief Commercial Officer PT Lion Express, Victor Ary Subekti sendiri pada Juli lalu menyatakan pihaknya menargetkan tahun 2019 ini bisa mencapai 25 juta kilogram. Saat ini, perseroan melayani angkutan kargo ke 87.200 destinasi.
Di lain pihak, PT Garuda Indonesia Persero Tbk sebagai kompetitor juga tak kalah agresif mengejar pertumbuhan kargo udara. Perseroan bahkan telah mendatangkan empat unit pesawat khusus angkutan barang atau freighter.

Tak hanya itu, menurut Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Garuda Indonesia, Mohammad Iqbal mengatakan entitasnya juga bersiap menyasar area remote atau terluar via unmanned aerial vehicle (UVA). Nantinya, pesawat nirawak maskapai ini bakal mengangkut komoditas ikan dan hasil laut di daerah potensial untuk kepentingan ekspor yang memiliki muatan 2,2 ton. Uji coba akan dilakukan akhir tahun ini dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *