Kasus ABK Indonesia dilarung ke laut kembali terjadi, istri ABK lainnya tulis surat terbuka ke Jokowi

Jokowi

Kasus ABK Indonesia dilarung ke laut kembali terjadi, istri ABK lainnya tulis surat terbuka ke Jokowi

Kasus Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang meninggal dunia di atas kapal berbendera China kemudian dibuang (dilarung) ke laut kembali terjadi. Jenazah ABK tersebut dibuang ke laut tanpa izin keluarga.Dua orang ABK, Daroni dan Riswan meninggal di atas kapal Han Rong 363 dan Han Rong 368. Jenazah dibuang ke laut pada 29 Juli 2020.

“Pihak keluarga mendapat informasi dari Kemenlu, pihak PT, dan perwakilan dari Kemenhub melalui video call pada tanggal 29 Juli 2020 malam bahwa kedua ABK tersebut telah dilarung ke laut. Keesokan harinya, pihak keluarga menginformasikan ke SBMI Tegal,” kata Ketua DPC Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Tegal, Zainudin, seperti dikutip dari Sbmi.or.id, Senin (3/8).SBMI Tegal sejak awal telah mendapat kuasa dari pihak keluarga untuk mengurus pemulangan 2 jenazah tersebut.

SBMI Tegal sebeumnya mendapat informasi bahwa ada yang mendatangi keluarga Riswan di Sulawesi. Mereka menyodorkan empat surat, terdiri dari surat persetujuan keluarga untuk pelarungan, kremasi, autopsi dan surat pemulangan jenazah.

“Dari empat surat tersebut, tidak ada satu pun yang ditandatangani keluarga Riswan. Pihak keluarga tetap bersikukuh agar jenazah dipulangkan berikut hak-hak almarhum,” ujar Zainudin.

Lebih lanjut Zainudin mengatakan, berdasarkan data pengaduan kasus yang diterima DPC SBMI Tegal, Daroni yang diberangkatkan oleh PT Puncak Jaya Samudera meninggal dunia di atas kapal Han Rong 363 pada 19 Mei 2020 karena sakit, tanpa ada kejelasan apa penyakit yang dideritanya.

Sedangkan Riswan yang diberangkatkan PT Mega Pratama Samudera, kata Zainudin, meninggal dunia di atas kapal Han Rong 368 pada 22 Juni 2020 dengan kondisi badan membengkak dan bintik-bintik serta dari mulutnya keluar cairan berwarna putih keabuan.

Menurut Zainudin, dengan didampingi DPC SBMI Tegal, pada 30 Mei 2020 pihak keluarga telah mengirim surat ke Kementerian Luar Negeri agar membantu proses pemulangan jenazah ke Indonesia.

“Kami benar-benar kecewa. Pemerintah tidak memberi tahu kami terkait pelarungan itu, juga tidak memberitahu atau tidak meminta izin ke pihak keluarga telebih dahulu. Padahal sejak tanggal 30 Mei lalu kami sudah mengirim surat ke Kemenlu agar jenazah dipulangkan ke Indonesia. Pemerintah telah abai dalam melindungi warganya,” kata Zainudin.

Sementara itu, Seorang perempuan bernama Ingrid Frederica (31), yang merupakan istri ABK asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menuliskan surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi). Wanita ini meminta agar pemerintah membantu melacak keberadaan suaminya yang bekerja di kapal ikan asal China.

Ingrid menyampaikan, dirinya meminta bantuan Presiden Jokowi karena suaminya yang bernama Sam Farid Fauzi (33) tidak diketahui keberadaannya. Sebagai ABK kapal Cina, Sam Farid Fauzi tidak jelas nasibnya sejak ikut kapal China Fu Yuan Yu pada 2018.

“Suami saya menyampaikan sudah tidak sanggup lagi bekerja dan ingin pulang tapi tidak dizinkan. Dengan berat hati suami saya melanjutkan sampai selesai kontrak April 2020. Seharusnya April suami saya sudah pulang. Namun hingga surat ini ditulis saya tidak tahu keberadaan dan keadaannya,” kata Ingrid Kamis (6/8/2020).

Kecemasan bertambah ketika Ingrid mendapat informasi dari salah seorang rekan kerja suaminya sesama ABK. Informasi tersebut menyebutkan, suaminya dipindahkan ke kapal Han Rong pada Juni 2020.Dari rekan suaminya itu, Ingrid juga memperoleh informasi kalau banyak ABK yang satu kapal dengan suaminya mengalami sakit dan bahkan meninggal.

Menurut cerita suaminya waktu masih bisa berkomunikasi, di samping perlakuan tidak manusiawi, Ingrid juga mengungkap gaji suaminya dipotong. Uang bayaran sebesar 300 Dolar AS, kata Ingrid, dipotong berbagai jaminan dan selalu telat dibayarkan.Di akhir suratnya, Ingrid meminta bantuan Jokowi agar pemerintah membantu mencari dan memulangkan suami Ingrid termasuk ABK lainnya.Menanggapi berita ini, anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS Kurniasih Mufidayati menyesalkan kembali terjadinya kasus pelarungan ABK asal Indonesia oleh kapal berbendera China.

Mufida menyesalkan hal tersebut karena sebelumnya sudah tercatat lima ABK asal Indonesia yang bernasib sama seperti Daroni dan Riswan.Dia menegaskan kejadian ABK asal Indonesia yang mendapat perlakuan tidak layak hingga meninggal dunia harus diusut dari hulu ke hilir.Mudifa pun meminta agar Pemerintah segera menerbitkan PP sebagai aturan teknis turunan dari UU No 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI).

Pemerintah juga diminta segera meratifikasi Konvensi ILO 188 agar ada kemampuan hukum Internasional bagi pemerintah dalam melindungi ABK Indonesia. Selain itu, Mufida menilai perlu adanya perizinan satu pintu, karena saat ini izin untuk menjadi ABK masih di bawah Kementerian Perhubungan. Padahal ada tiga kementerian yang terkait dengan kasus ABK, yakni Kementerian Perhubungan, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang Nation: https://www.indonesianupdates.com/category/nation/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *