Kasus narkoba sepekan ini: vape narkoba dan tembakau gorila dari Bali, pengedar sabu-sabu jaringan internasional dari Sukabumi

Narkoba

Kasus narkoba sepekan ini: vape narkoba dan tembakau gorila dari Bali, pengedar sabu-sabu jaringan internasional dari Sukabumi

Dalam kurang lebih sepekan ini, polisi telah melakukan penangkapan kasus narkoba di dua wilayah provinsi Indonesia. Salah satunya merupakan buron dari kasus narkoba jaringan internasional.

Polres Sukabumi Kota berhasil menangkap seorang pengedar sabu-sabu paling dicari yang sempat menghilang setelah penggerebekan sebuah rumah yang dijadikan tempat penyimpanan sabu-sabu jaringan internasional seberat 432,38 kilogram di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Tersangka berinisial HS setelah pengungkapan kasus  jaringan internasional tersebut sempat menghilang diduga berpindah-pindah tempat untuk menghilangkan jejaknya,” kata Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sumarni di Sukabumi, Selasa.

Dari tangan tersangka Satuan Narkoba Polres Sukabumi Kota berhasil menyita barang bukti sabu-sabu seberat 245,7 gram dan ini pengungkapan terbesar sepanjang 2020 yang sebelumnya juga pihaknya pernah mengungkap kasus serupa sebanyak sekitar 200 gram sabu-sabu.

Informasi yang dihimpun, penangkapan ini berawal polisi yang terus mengintai keberadaan tersangka sempat kehilangan jejak diduga tersangka melarikan diri ke beberapa daerah salah satunya Bandung dan Karawang.

Setelah aksi pengintaian dan memancing target untuk keluar dari persembunyiannya, Tersangka pun akhirnya berhasil ditangkap di wilayah Kecamatan Cibeureum Sukabumi, Kota Sukabumi pada Selasa, (30/06) pukul 13.00 WIB. Dari tangan HS polisi awalnya hanya menemukan sabu-sabu kemasan kecil yang disimpan di balik bajunya.

Tidak sampai itu saja, setelah dikembangkan dan melakukan penggeledahan di rumah tersangka di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi polisi kembali menemukan barang bukti sabu-sabu, sehingga totalnya mencapai 245,7 gram.

Sumarni mengatakan tersangka HS dijerat dengan Pasal 114 ayat (2), Pasal 112 ayat (2) ,UURI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup hingga hukuman mati.

Sebelum kasus di atas, Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap 7 orang karena kedapatan mengedarkan cairan vape mengandung narkotika dan tembakau sintesis atau tembakau gorila secara online. Diketahui para tersangka mulai menjalankan bisnis haramnya itu sejak Januari 2020.

“Sindikat ini terungkap dari pengembangan kasus tertangkapnya FA pada 12 Juni 2020 di Cawang, Jakarta Timur,” ujar Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nana Sudjana saat memimpin konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Senin, 29 Juni 2020.Adapun inisial para tersangka, antara lain IK, AAN, NIKA, AAP, ANA, AEP, dan K.

Nana mengatakan ada tujuh tersangka anggota sindikat ini yang berhasil ditangkap jajaran penyidik Polda Metro Jaya. Setelah dilakukan pemeriksaan intensif, ditemukan fakta yang cukup mengejutkan karena sindikat ini diketahui dikendalikan oleh narapidana di salah satu lembaga pemasyarakatan (Lapas) di Bali.

Salah satu tersangka IK mengatakan bahan baku liquid vape dan tembakau gorila ia dapat dari seorang narapidana di Lapas Bali.”Bahan baku untuk produksi tembakau khusus ini dari tersangka K, narapidana Lapas Bali. Bahan bakunya diperoleh dari Cina,” ujar Nana.

Tersangka IK berperan meracik narkoba tersebut di rumahnya yang berada di Bali dan sisanya membantu memasarkan melalui e-commerce.Dalam kurun waktu 6 bulan memasarkan barang haram itu lewat toko online, Nana mengatakan para pelaku mendapatkan omzet miliaran rupiah.

Kini para tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 subsider 112 ayat 2 juncto Pasal 132 Ayat 2 KUHP UU 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Mereka terancam pidana penjara seumur hidup atau paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang National:
https://www.indonesianupdates.com/category/nation/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *