Kebakaran Masih Banyak, Status Tanggap Darurat Karhutla di Sumsel Diperpanjang

Many Fires Still, Emergency Status of Forest and Land Fire Protection in South Sumatra Extended

Foto Status Perlindungan Hutan dan Kebakaran Lahan di Sumatera Selatan

Masih Kebakaran, Status Perlindungan Hutan dan Kebakaran Lahan di Sumatera Selatan

Saat ini kondisi hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih banyak kebakaran yang terjadi. Sehingga, hal ini membuat status tanggap darurat karhutla diperpanjang hingga 30 November 2019. Ini menjadi perpanjangan yang kedua, dari semula yang berakhir 31 Oktober dan ditambah hingga 10 November 2019.

Keputusan memperpanjang status tanggap darurat diambil dalam rapat Satgas Penanggulangan Karhutla Sumsel di kantor BPBD setempat, Jumat (8/11). Menurut Gubernur Sumsel Herman Deru, bahwa perpanjangan status tersebut untuk mengoptimalkan pemadaman karhutla secara terpadu. Apalagi, cuaca di provinsi itu masih panas akibat musim kemarau tahun ini yang mundur.

Deru mengatakan tim satgas karhutla, baik di darat maupun udara tetap bekerja di lapangan, terutama daerah yang masih potensi kebakarannya masih tinggi, seperti di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Penukal Abab Lematang Ilir. Hingga kini belum ada penarikan personil baik dari TNI, polri, BPBD dan sektor lainnya.

Sementara, Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan mengatakan, pihaknya akan melakukan penambahak personel guna membantu 1.512 tim satgas yang telah lebih dulu di lokasi karhutla. Penambahan personel sendiri tidak terlalu besar karena bertujuan mempertebal pasukan.

Metode yang dilakukan dalam pemadaman, selain melalui pengeboman air dari udara, tim darat sangat berpengaruh besar dalam pemadaman. Tantangannya, dengan menyiapkan sumber air dengan membangun sumur bor dan tempat penampungan.

“Dugaan sementara api muncul karena faktor kesengajaan, ada oknum yang mencari perhatian. Ini evaluasi kita sementara,” ujar Irwan.

Menurut Kepala Stasiun Klimatologi Klas 1 Palembang Nuga Putrantijo terkait terjadinya kemunduran akhir musim kemarau disebabkan faktor adanya pengaruh tiga siklon tropis di Laut Andaman, Filipina, dan Laut Cina Selatan.

Menurut prediksi, musim kemarau bakal akan berakhir minggu ketiga bulan ini. Sedangkan untuk puncak musim hujan diperkirakan pada Februari hingga Maret 2020.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang Bangsa: https://www.indonesianupdates.com/category/nation/

Ikuti kami di Facebook dan tetap up to date dengan konten terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *