KPK Jadwalkan Pemeriksaan Mantan Direktur Garuda Indonesia Terkait Kasus Suap

KPK Schedule Examination of Former Garuda Indonesia Director Regarding Bribery Cases

Foto Pemeriksaan Jadwal KPK Bekas Garuda Indonesia

Mantan Direktur Teknik dan Manajemen Armada PT Garuda Indonesia Hadinoto Soedigno akan dipanggil oleh

Mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia Hadinoto Soedigno akan dipanggil Penyidik Komisi PemberantasanĀ KorupsiĀ (KPK) untuk jadwal pemeriksaan terkait kasus dugaan suap pengadaan mesin dan pesawat di PT Garuda Indonesia.

Saat ini Hadinoto telah dijerat sebagai tersangka ini dalam periksaan kali ini juga akan melengkapi berkas penyidikan tersangka mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (29/10), berkata, “Saksi Hadinoto Soedigno akan diperiksa untuk tersangka ESA (Emirsyah Satar)”.

Sebelumnya sudah ada dua tersangka yang ditetapkan KPK terkait kasus dugaan suap pengadaan mesin dan pesawat di PT Garuda Indonesia.

Keduanya adalah Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo yang merupakan Presiden Komisaris PT Mugi Rekso Abadi (MRA) yang dijerat dalam tindak pidana pencucian uang (TPPU). Dalam kasus ini, Emirsyah Satar diduga menerima suap senilai Euro 1,2 juta dan USD 180 ribu atau senilai total Rp 20 miliar.

Dugaan KPK, uang suap yang diberikan Seotikno kepada Emirsyah dan Hadinoto Soedigno tidak hanya berasal dari perusahaan Rolls-Royce. Suap juga diduga berasal dari pihak pabrikan lain yang mendapatkan proyek di PT Garuda Indonesia.

Dalam program peremajaan pesawat, ada beberapa kontrak pembelian dengan empat pabrikan pesawat yang dilakukan Emirsyah. Kontrak itu berlangsung sejak 2008 hingga 2013 dengan nilai miliaran USD. Kontrak tersebut terdiri dari kontrak pembelian mesin Trent seri 700 dan perawatan mesin (Total Care Program) dengan perusahaan Rolls Royce, serta kontrak pembelian pesawat Airbus A330 dan Airbus A320 dengan perusahaan Airbus S.A.S.

Selanjutnya, kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR), dan ada juga kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.

Soetikno, dalam hal ini selaku konsultan bisnis dari Rolls-Royce, Airbus dan ATR, diduga telah menerima komisi dari tiga pabrikan tersebut. Tak hanya itu, Soetikno juga diduga menerima komisi dari perusahaan Hong Kong bernama Hollingsworth Management Limited International Ltd (HMI) yang merupakan Sales Representative dari Bombardier.

Komisi ini diterima Soetikno, terkait dengan keberhasilannya yang membantu tercapainya kontrak antara PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan empat pabrikan tersebut.

Setelah menerima uang dari empat pabrikan itu, Soetikno memberikan sebagian dari komisi tersebut kepada Emirsyah dan Hadinoto.

Emirsyah Satar menerima pemberian dari Soetikno, yakni Rp 5.79 miliar untuk pembayaran rumah di Pondok Indah, USD 680 ribu dan EUR 1,02 juta yang dikirim ke rekening perusahaan milik Emirsyah di Singapura, serta SGD 1,2 juta untuk pelunasan apartemen milik Emirsyah di Singapura.

Pemberian yang diterima Hadinoto adalah USD 2,3 juta dan EUR 477 ribu yang dikirim ke rekening Hadinoto di Singapura. Hadinoto pun dijerat sebagai tersangka suap oleh KPK karena menerima suap dari Soetikno.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang Bangsa: https://www.indonesianupdates.com/category/nation/

Ikuti kami di Facebook dan tetap up to date dengan konten terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *