KPK Panggil Direktur Operasional Perum Perindo Sebagai Saksi Kasus Suap Kuota Impor Ikan

KPK Summons Director of Operations at Perum Perindo as Witness for Bribery on Fish Import Quota

Foto agenda pemeriksaan dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi

Investigator Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Direktur Operasional Direktur Perikanan Indonesia Farida Mokodompit

Agenda pemeriksaan dilakukan Penyidik Komisi PemberantasanĀ KorupsiĀ (KPK) terhadap Direktur Operasional Perum Perikanan Indonesia (Dirops Perum Perindo) Farida Mokodompit, pada Rabu (30/10).

Pemeriksaa terhadap Farida ini dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait kasus dugaan suap kuota impor ikan tahun 2019. Keterangannya diperlukan guna melengkapi berkas penyidikan Dirut Perum Perindo Risyanto Suanda (RSU).

Saat dionfirmasi, Juru Bicara KPK Febri Diansyah berujar, “Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RSU”.

BUkan hanya Farida, penyidik KPK juga melakukan pemanggilan terhadap tiga saksi lainnya yaitu, Cluster Director of Government for Ritz Carlton and JW Marriot Rika Rachmawati, karyawan Perum Perindo Mohamad Saefulah alias Ipul, serta Ibu Rumah Tangga Nurlaila. Mereka juga sedianya akan diperiksa untuk tersangka Risyanto Suanda.

Risyanto Suanda selaku Direktur Utama (Dirut) Perum Perikanan Indonesia (Perindo) ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan suap kuota impor ikan. KPK juga menjerat tersangka lainnya, yakni Direktur PT Navy Arsa Sejahtera (PT NAS) Mujib Mustofa.

Dari penyelidikannya, KPK menemukan adanya dugaan alokasi fee Rp 1.300 untuk setiap kilogram ikan yang diimpor. Uang suap yang dikantongi Risyanto mencapai USD 30 ribu untuk keperluan pribadinya, yang diterima dari Mujib Mustofa.

Proses dari kasus suap itu adalah, Risyanto meminta fee dari Mujib lantaran Perum Perindo memberikan kesempatan untuk perusahaan Mujib melakukan impor ikan. Padahal, diketahui status dari PT Navy Arsa Sejahtera (NAS) sebagai perusahaan importir ikan telah masuk blacklist sejak tahun 2009. Penyebabnya PT NAS telah melakukan impor ikan yang melebihi kuota.

Mujib berkenalan dengan Risyanto lewat mantar Pegawai Perum Perindo. Kemudian, Mujib menemui Risyanto dan membicarakan masalah kebutuhan impor ikan. Pertemuan pun dilakukan antara Mujib dan Risyanto sekitar bulan Mei 2019.

Kesepakatan dicapai di mana Mujib akan mendapatkan kuota impor ikan sebanyak 250 ton dari kuota impor Perum Perindo yang disetujui Kemendag. Jadi, meskipun kuota impor diberikan kepada Perum Perindo, namun pada kenyataannya yang melakukan impor adalah PT NAS.

Ketika 250 ton ikan telah diimpor oleh PT NAS, lalu ikan-ikan tersebut berada di karantina dan disimpan di cold storage milik Perum Perindo.

Menurut pernyataan Mujib, hal itu dilakukan guna mengelabui otoritas yang berwenang. Sehingga, seolah-olah yang melakukan impor ikan tersebut adalah Perum Perindo.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang Bangsa: https://www.indonesianupdates.com/category/nation/

Ikuti kami di Facebook dan tetap up to date dengan konten terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *