Mudik 2020: Kemenhub kaji aturan terkait larangan mudik, Pemkab Sragen karantina paksa pemudik bandel di rumah angker

Homecoming 2020: Ministry of Transportation examines regulations related to the prohibition of going home, Sragen regency quarantine force for recalcitrant homecomers in haunted homes

The Ministry of Transportation (Kemenhub) said the government was reviewing regulations related to the prohibition of Idul Fitri Idul Fitri 2020 homecoming.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatakan pemerintah tengah mengkaji aturan terkait pelarangan mudik Lebaran Idul Fitri 2020. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya dalam pencegahan penyebaran virus Corona (COVID-19).

Dirjen Perhubungan Kemenhub Budi Setyadi mengatakan aturan terkait pelarangan mudik masih dalam kajian meski menurut data yang ia punya, masyarakat cenderung ingin mudik.

Meski begitu, apabila dinamika wabah COVID-19 terus meningkat, ada kemungkinan pemerintah melarang masyarakat mudik.

“Bisa saja jika COVID-19 ini terus dinamikanya berkembang. Suatu saat nantinya pemerintah akan melarang mudik sama sekali. Nah ini sebetulnya yang sedang kita tunggu,” ujar Budi dalam telekonferensi bertajuk ‘Siapa Mudik di Tengah Pandemi?’, Senin (20/4/2020).

Untuk saat ini, Budi mengaku telah menyusun draf regulasi apabila pemerintah sepakat untuk mengeluarkan kebijakan larangan mudik. Dalam draf tersebut disebutkan bahwa kendaraan umum dan pribadi akan dilarang keluar masuk kawasan yang memiliki status pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Kalau kemarin hasil diskusi kita sepakat dari daerah yang sudah melakukan PSBB atau zona merah.. Kalau Jakarta artinya Jabodetabek. Itu yang nggak boleh keluar, termasuk masuk ke Jabodetabek,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa aturan itu masih dalam kajian, sehingga terkait kapan aturan tersebut akan dikeluarkan ia pun berharap keputusan bisa segera diumumkan.

Hari ini, rencananya ia akan mengadakan rapat dengan Menko Maritm Luhut Binsar Pandjaitan dan berharap secepatnya bisa diputuskan.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen meminta desa untuk menyiapkan tempat karantina khusus bagi para pemudik yang membandel di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19.

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati meminta pihak desa menyiapkan rumah kosong dan berhantu, untuk mengkarantina paksa para pemudik yang tidak menaati aturan karantina mandiri selama 14 hari.

“Jika masih ada yang nekat, saya persilakan desa untuk melakukan langkah tegas. Kalau ada rumah kosong dan berhantu, masukkan di situ. Kunci dari luar,” ujar Yuni saat ditemui wartawan, Senin (20/4/2020).

Yuni mengatakan keputusan ini diambil setelah menerima banyak laporan dari desa tentang pemudik yang tidak mentaati aturan karantina mandiri. Meski dikarantina di lokasi khusus, tapi Yuni meminta pihak desa memastikan kondisi para pemudik tetap baik.

“Kalau memang ngeyel silakan. Sudah ada dua desa yang lapor ke saya. Satu di Kecamatan Plupuh dan satu lagi di Desa Sepat Kecamatan Masaran. Tapi saya minta makanan mereka diperhatikan. Kesehatan juga terus dipantau,” ujar Yuni.

Kepala Desa Sepat, Mulyono mengaku telah berkonsultasi dengan bupati, dan diperbolehkan melakukan karantina para pemudik yang bandel di gedung karantina yang lama tidak dipakai sehingga memiliki kesan angker dan seperti rumah hantu. 

“Kita bersihkan kita kasih tempat tidur bersekat,” terang Mulyono

Dia melanjutkan, dari ketiga pemudik yang menghuni rumah hantu tersebut, telah dilakukan jemput paksa oleh Satgas COVID-19 desa karena ketahuan keluar rumah. Meski awalnya enggan, para pemudik tersebut akhirnya menurut setelah diberi pengertian oleh petugas. “Ya kita memang agak memaksa. Bagaimana lagi, karena ini demi kebaikan seluruh warga. Kami harapkan hal ini menjadi pelajaran bagi warga lain untuk menuruti aturan,” imbuh Mulyono.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang National:
https://www.indonesianupdates.com/category/nation/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *