Pertama Kalinya Polisi Hong Kong Lepaskan Tembakan peluru Tajam ke Pedemo

The First Time Hong Kong Police Shoot Sharp Bullets at Pedemo

Foto Polisi Hong Kong Tembakkan Peluru Tajam

Dalam demonstrasi yang telah berjalan selama tiga bulan terakhir, ini adalah pertama kalinya polisi Hong Kong menembak seorang

Dalam demo yang telah berjalan selama tiga bulan terakhir, ini pertama kalinya polisi Hong Kong menembak seorang demonstran dengan peluru tajam dalam unjuk rasa pada Rabu (2/10) kemarin. Hari itu bertepatan dengan China sedang merayakan hari jadi ke-70.

Menurut laporan AFP bahwa tembakan dilepaskan polisi dari jarak dekat ke arah seorang remaja berusia 18 tahun yang sedang ikut serta dalam demonstrasi di distrik Tsuen Wan.
Sementara, menurut keterangan kepolisian bahwa personel polisi tersebut mengaku dalam keadaan terancam. Demonstran disebut terus melakukan penyerangan terhadap aparat menggunakan senjata tongkat dan payung.

Usai terkena tembakan, personel kepolisian lainnya langsung menarik remaja itu ke pinggir. Personel mencoba memberikan pertolongan pertama sembari menunggu paramedis. Ketika tim medis tiba di lokasi, remaja tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit.

Belum ada kabar terkini dari kondisi remaja tersebut setelah menjalani perawatan di rumah sakit setempat.

Dikabarkan, polisi Hong Kong melakukan penahanan terhadap lebih dari 180 orang dan melepaskan enam tembakan dalam demonstrasi yang berlangsung pada Selasa (01/10) kemarin.

Laporan dari petugas medis menyebutkan bahwa sekitar 66 orang dilarikan ke rumah sakit di tengah aksi yang bertepatan dengan HUT China ini. Dua korban di antaranya dalam kondisi kritis.

Ini menambah panjang daftar pendemo yang menjadi korban dan terluka dalam aksi protes berkepanjangan sejak tiga bulan belakangan.

Demonstrasi berkepanjangan itu bermula dari para demonstran yang menuntut pemerintah mencabut rancangan undang-undang ekstradisi. Sebab, warga Hong Kong menolak jika adanya tersangka satu kasus di negara mereka diadili di wilayah lain, termasuk China.

Mereka menganggap sistem peradilan di China kerap kali bias, terutama jika berkaitan dengan Hong Kong. Seperti diketahui, Hong Kong merupakan wilayah otonom yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Sebelumnya, pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam telah memutuskan bakal membatalkan pembahasan RUU ekstradisi itu di parlemen.

Namun, pembatalan RUU itu tak lantas menghentikan aksi para demonstran. Sebab para demonstran menganggap kasus ini sudah melebar, bahkan mereka menggaungkan tuntutan agar Carrie mundur dan melepaskan Hong Kong dari China. 

Baca lebih banyak artikel terkait tentang Politik: https://www.indonesianupdates.com/category/international/

Ikuti kami di Facebook dan tetap up to date dengan konten terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *