Sebanyak 25 Kontainer Kelapa Ditolak Thailand, Eksportir Kelapa Asal Sumsel Rugi Miliaran Rupiah

As many as 25 Coconut Containers Rejected by Thailand, Coconut Exporters from South Sumatra Loss Billions of Rupiah Coconut

Foto Eksportir Kelapa dari Sumatera Selatan Kehilangan Miliaran Rupiah

Eksportir Kelapa dari Sumatra Selatan Kehilangan Miliaran Rupiah

Kerugian dialami oleh perusahaan pengekspor kelapa asal Sumatra Selatan dari pengiriman kelapa yang dilakukan. Eksportir ini rugi senilai Rp2,5 miliar akibat reimpor sebanyak 25 kontainer (sebelumnya disebut 33) kelapa bulat yang ditolak negara tujuan Thailand.

Menurut keterangan dari direktur PT Sentral Argo Indonesia, Muhammad Rajief Nasir, bahwa Thailand menolak sebanyak 625.000 butir kelapa utuh yang disebabkan oleh adanya kelapa yang bertunas saat tiba di negara tujuan. Rajief menyebut, satu kontainer kelapa bulat setara dengan Rp100 juta.

Saat tengah meninjau container kelapa reimport di Pelabuhan Bom Baru Palembang, Selasa (19/11/2019), Rajief berujar, “Aturan dari Thailand tidak boleh ada tunas, tetapi kita kan kirim barang hidup, kelapa segar pasti ada tunas kecil. Kami sebagai eksportir dirugikan”.

Lebh lanjut ia mengatakan bahwa sebetulnya pihaknya telah melakukan quality control (QC) sebelum melakukan pengiriman ke negara pembeli. Rajief juga mengaku, selama ini tidak pernah mengalami kendala kualitas dari komoditas tersebut.

“Sebelumnya tidak ada masalah, tumbuh tunas biasa saja karena paling hanya 1 cm sampai 2 cm. Tapi kali ini di sana ada pengetatan,” kata Rajief.

Untuk itu, Rajief berharap pemerintah bisa membantu eksportir dalam rangka melakukan kesepakatan dengan pemerintah Thailand terkait regulasi kualitas kelapa ekspor.

Sementara itu, Pettah Amino, eksportir kelapa Sumsel, menambahkan harga kelapa ekspor saat ini sekitar US$250 per ton.

Dia mengatakan, saat ini Thailand menjadi salah satu pasar utama ekspor kelapa segar setelah China. Meski demikian, China juga menerima pengiriman kelapa bentuk olahan, seperti santan.

“Permintaan ekspor kelapa dari Sumsel lagi meningkat tajam. Saat ini Sumsel termasuk penghasil kelapa terbesar di Sumatra,” aku Amino.

Bahkan, Amino menuturkan kalau pihaknya kewalahan memenuhi permintaan pasar ekspor. Diakuinya, permintaan dari negara lain bisa mencapai 50 kontainer per minggu. Sedangkan pihaknya belum bisa memenuhi kuota tersebut dan hanya mampu mengirim 15 kontainer per minggu.

Amino memberi alasan bahwa tingginya permintaan ekspor kelapa Sumsel lantaran buyer mulai beralih ke provinsi itu ketimbang Surabaya dan Sulawesi. Sebab, kata dia, pelabuhan Sumsel langsung ke Singapura. Sementara kelapa dari Palu harus dikirim dulu ke Surabaya baru ke negara tujuan, sehingga hitungannya lebih lama bagi buyer.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang Bisnis: https://www.indonesianupdates.com/category/business/

Ikuti kami di Facebook dan tetap up to date dengan konten terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *