Sriwijaya Air Menunggak Rp 80 Miliar, Kerjasama Dengan GMF AeroAsia Distop

Sriwijaya Air in Arrears Rp 80 Billion, Collaboration with GMF AeroAsia Distop

Foto Grup Sriwijaya Air

Jumlah utang oleh Sriwijaya Air Group ke PT Garuda Maintenance Facilities AeroAsia adalah Rp80 miliar.

Besarnya utang yang ditanggung Sriwijaya Air Group kepada PT Garuda Maintenance Facilities AeroAsia adalah sebesar RP 80 miliar. Direktur Operasi Sriwjaya Air Captain Fadjar Semiarto mengatakan, utang tersebut digunakan perusahaan untuk perawatan armada pesawatnya. Dengan utang yang menumpuk itu membuat adanya pemutusan kerja sama dengan anak usaha Garuda Indonesia untuk perawatan pesawat itu.

Dikutip dari Antara, Senin (30/9), Fadjar mengatakan meski sudah dicicil, namun karena tunggakannya yang besar membuat utang tersebut tidak bisa dimitigasi.

Tak hanya itu, Fadjar menuturkan kondisi perusahaan saat ini pun sudah berada dalam rapor merah, yaitu dalam Hazard, Identification dan Risk Assessment sudah berstatus merah 4A. Tingkat paling parah dari kondisi rapor merah adalah 5A. Sehingga, kondisi tersebut disebutkan sudah tidak memungkinkan bagi maskapai untuk melanjutkan operasional penerbangan.

Bukan hanya memiliki tunggakan kepada GMF, Sriwijaya Air Group juga berutang kepada perusahaan BUMN lainnya. Diantaranya, PT Pertamina, Angkasa Pura I, dan II, Airnav Indonesia dan lainnya dengan total tunggakan mencapai Rp 2,46 triliun terhitung pada Oktober 2018.

Oleh karenanya, pihaknya mengajukan surat rekomendasi untuk operasional Sriwijaya Air Group dihentikan sementara hingga kondisi sudah kembali memungkinkan, terutama kondisi finansial perusahaan yang berefek kepada sisi operasi, komersial, teknis, SDM, dan lainnya.

Operasional dari maskapai akhirnya terganggu, salah satunya terdapat keterlambatan penerbangan yang berdampak pada membengkaknya biaya layanan sebagai kompensasi.

Fadjar berujar, “Dana service recovery dalam sehari bisa mencapai Rp1 miliar untuk penerbangan, selama belum dikatakan cancel sesuai dengan PM 78 pihaknya wajib menyediakan makanan ringan dan lainnya”.

Sementara, Direktur Teknik Romdani Ardali Adang mengatakan kekhawatiran juga menghinggapi sejak putus kontrak dengan GMF karena perawatan pesawat menjadi tidak terjamin.

Baca lebih banyak artikel terkait tentang Perjalanan: https://www.indonesianupdates.com/category/business/

Ikuti kami di Facebook dan tetap up to date dengan konten terbaru!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *